Orang-orang sibuk ngincer apartemen mewah atau ruko di pusat kota. Padahal, properti dekat bandara itu kayak harta karun yang belum banyak dieksploitasi. Nggak percaya? Coba liat data penyewaan kos-kosan di sekitar Bandara Soekarno-Hatta aja. Penuh! Bahkan harganya bisa 2x lipat dibanding daerah lain yang jaraknya lebih dekat ke Jakarta.
Siapa Sih yang Butuh Tinggal Dekat Bandara?
Pertama, karyawan maskapai. Pilot dan pramugara itu sering dapat jadwal pagi buta. Buat mereka, tinggal 15 menit dari bandara jauh lebih berharga daripada rumah mewah di Pondok Indah. Kedua, pekerja logistik. Kurir, supir truk cargo, sampai staff gudang pesawat pada betah ngontrak di sini. Gaji mereka cukup buat bayar sewa mahal.
Yang bikin menarik, properti dekat bandara nggak melulu harus bagus. Kosan ala kadarnya pun laku keras. Asal kamar ada AC dan WiFi stabil, penyewa rela merogoh kocek dalam-dalam. Pengalaman gw ngobrol sama pemilik 8 unit kost di kawasan Bandara Juanda, omzet mereka stabil di angka Rp 300 juta per tahun. Itu baru dari 20 kamar!
Lalu properti jenis apa yang paling laris? Apartemen harian. Buat orang-orang yang transit semalem atau tamu bisnis yang meeting kilat. Kamu bisa sewain studio kecil seharga Rp 800 ribu/malam dan tetep keambil. Bandingin kalo sewain bulanan cuma dapet Rp 5 juta. Hitung-hitungannya bikin ngiler.
Yang sering ditanyain: “Bising nggak sih tinggal dekat bandara?” Jujur, iya. Tapi penyewa tipe bandara itu kebanyakan nggak peduli. Mereka cari kepraktisan, bukan kenyamanan jangka panjang. Lagipula, manusia itu bisa adaptasi. Bunyi pesawat lepas landas minggu pertama ganggu, tapi bulan berikutnya udah dikira white noise.
Nah, kelemahannya di mana? Akses. Kadang jalan ke bandara itu muter-muter dan macet parah. Makanya properti yang jarak 5km tapi akses lancar (ada jalan tol/train) jauh lebih mahal ketimbang yang cuma 2km tapi harus lewat kampung sempit. Ini rahasia besar yang jarang dibahas.
Investor yang pinter malah beli tanah kosong buat parkiran mobil. Di Bandara Kualanamu Medan, tarif parkir harian bisa Rp 100 ribu. Kalau kamu punya lahan buat 50 mobil? Itu Rp 5 juta sehari tanpa harus bangun apa-apa. Modal cuma paving block sama tulisan “Parkir Di Sini”.
Jarang yang nyadar, properti bandara itu cyclical. Musim haji dan liburan sewa melonjak tajam. Tapi low season bisa sepi. Makanya strategi bisnis warung makan dekat bandara beda banget. Mereka harus punya menu kilat buat awak pesawat yang buru-buru dan menu lengkap buat keluarga yang mau makan sambil nunggu penerbangan delay.
Paling lucu tuh liat developer yang maksa bangun cluster elite dekat bandara. Salah alamat banget! Pasar mereka bukan di situ. Properti bandara itu pasar khusus yang perlu treatment spesial. Kamu mau cari duit atau mau pamer konsep?
Terakhir, pro tip: cari properti dekat bandara cargo. Bandara penumpang emang ramai, tapi bandara cargo malah jarang ada kompetisi. Perusahaan logistik selalu butuh gudang dan akomodasi karyawan di situ. Dan mereka bayar tepat waktu. Nggak kayak penyewa biasa yang kadang minta tempo.
Jadi gimana? Masih mau berebut properti tengah kota yang harganya udah gila-gilaan? Atau mulai melirik potensi emas di sekitar bandara yang masih banyak yang nggak ngerti? Pikir-pikir lagi.